Laila: Keindahan Seribu Bulan

Ditulis oleh: Alfian Muslim 

Editor: Erij 

Masjid di Malam Hari (dibuat oleh AI) | Sumber: freepik.com

Mata, hati, dan jiwa ini tidak dapat berbohong bahwa kilauan Laila, lebih indah dari seribu Bulan di alam semesta. Laila adalah Layla yang sama, yang diciptakan Tuhan demi membasuh luka hambanya. Tuhan yang Maha Indah dan mencintai keindahan menceritakan Laila melalui kalam sucinya dalam secarik surat yang diberi nama al-Qadr.

"Al-Qadr" menurut sebagian ulama sebagaimana dikutip oleh Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam kitab Al-Qur'an wa Lailah al-Qadr bermakna 'ta'dzim' (keagungan). Makna tersebut diserupakan dengan makna 'Qadr' dalam surat al-Zumar ayat 67:

وَمَا قَدَرُوْا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖ ۖوَا لْاَ رْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَا لسَّمٰوٰتُ مَطْوِيّٰتٌ بِۢيَمِيْنِهٖ ۗسُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

"Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya, pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan."

Dikatakan demikian karena pada malam tersebut adalah malam turunnya al-Qur'an, para Malaikat, dan rahmat Allah Swt. Sehingga karena begitu agung dan mulianya, beribadah di dalamnya lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan.

Tafsir al-Baghowi menjelaskan bahwa turunnya al-Qur'an yang dimaksud adalah turun dari Lauh Mahfudz seluruhnya ke Bait al-'Izzah (langit dunia). Proses ini berlangsung satu kali. Kemudian Malaikat Jibril AS membawanya turun berangsur-angsur selama 23 tahun kepada Nabi Muhammad Saw.

Turunnya para malaikat dan Jibril As. menurut penuturan Imam al-Sya'bi adalah dalam rangka mendoakan keselamatan kepada orang-orang yang mengidupkan masjid-masjid pada malam itu, dari terbenamnya matahari hingga terbitnya fajar esok hari. Atau, bisa juga seperti yang diungkap Imam Al-Kalbi:

قال الكلبي: الملائكة ينزلون فيها كُلَّمَا لَقُوا مُؤْمِنًا أَوْ مُؤْمِنَةً سَلَّمُوا عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ.

Al-Kalbi berkata: "Para malaikat turun pada malam itu, dan apabila mereka bertemu dengan orang mukmin baik laki-laki maupun perempuan, mereka mengucapkan salam keselamatan dari Tuhan kepada hamba-Nya hingga fajar menyingsing."

Sedangkan turunnya Rahmat Allah sebagaimana dalam Hadis Nabi yang Shahih:

عن أبي هريرة رضى الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : « من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه ، ومن قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه )

Dari Abi Hurairah Ra. dari Nabi Saw. berkata: barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dan beribadah pada malam lailatul qadr karena iman dan mengharap kebaikan, maka akan diampuni segala dosanya yang telah lalu.

Imam al-Nasa'i memahami hadis tersebut bahwa yang diampuni bukan hanya wa maa taqoddam (yang telah lalu), tapi juga wa maa taakhor (yang akan datang), sebagaimana dalam redaksi hadis yang lain. Dalam arti Allah Swt. akan mengampuni dosa-dosa hambanya yang akan dilakukan di masa mendatang maupun yang telah terjadi.

Sungguh indah ampunan Allah Swt. Seandainya kita dapat melihat bagaimana para malaikat itu mengucapkan salam keselamatan, bagaimana cahaya-cahaya rahmat turun menghiasi langit-langit, kilauan bintang-bintang dan bulan beserta sejuknya udara membawa terbang doa-doa indah kita, tentulah kita akan menjauhi segala dosa. Malam itu akan menjadi malam ibadah terbaik yang lebih baik daripada ibadah-ibadah kita sebelumnya.

Sayangnya, Allah menyembunyikan keberadaan pasti mengenai malam lailatul qadr. Bukan karena Allah Swt. ingin hambanya tidak maksimal dalam beribadah, akan tetapi sebaliknya, Allah ingin agar kita tidak memilah dan memilih hari-hari tertentu untuk beribadah. Supaya kita senantiasa melakukan kebaikan dimana pun dan kapanpun. Sebagaimana Allah menyembunyikan jumlah pahala dan dosa kita, pengampunan atas dosa kita, derajat kita di sisi-Nya, diterima atau tidaknya amal ibadah kita. Semuanya demi kebaikan hamba-Nya.

Namun kendati demikian, Allah melalui perantara kekasihnya memberikan sedikit petunjuk mengenai tanda-tanda malam lailatul qadr. Dikatakan “Sedikit” karena bukan sebuah kepastian spesifik mengenai “kapan” dan “bagaimana” malam itu berlangsung atau dipastikan adanya. Bisa jadi malam itu terjadi namun kita tidak merasakannya. Padahal, telah penat mengamati dengan seksama. Sementara itu, di suatu tempat di waktu yang sama, seorang hamba yang memiliki kedudukan yang begitu dekat dengan Allah mampu merasakannya, bahkan melihat dengan jelas datangnya lailatul qadr. Karenanya pula, hanya beberapa sahabat Nabi saja yang mengaku mengetahui dan bermimpi serta mendapatkan pengakuan dari Nabi Saw atas mimpinya. Pun juga bukti lain bahwa Allah menyembunyikan keberadaannya adalah banyaknya perbedaan pendapat di kalangan para ulama serta riwayat mengenainya.

Abdullah Ibn Mas’ud adalah salah seorang sahabat Nabi yang diyakini mengetahui keberadaan malam lailatul qadr meski beliau tidak terang-terangan menyebutkan waktu pastinya. Imam al-Qurtubi dalam tafsirnya mencamtumkan Riwayat berikut:

ابن مَسْعُودٍ يَقُولُ: مَنْ يَقُمُ الْحَوْلَ يُصِبْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ. فَقَالَ: يَغْفِرُ اللَّهُ لِأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ! لَقَدْ عَلِمَ أَنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، وَأَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ، وَلَكِنَّهُ أَرَادَ أَلَّا يَتَّكِلَ النَّاسُ، ثُمَّ حَلَفَ لَا يَسْتَثْنِي «١»: أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ. قَالَ قُلْتُ: بِأَيِ شي تَقُولُ ذَلِكَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ؟ قَالَ: بِالْآيَةِ الَّتِي أَخْبَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، أَوْ بِالْعَلَامَةِ أَنَّ الشَّمْسَ تَطْلُعُ يَوْمَئِذٍ لَا شُعَاعَ لَهَا. قَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. وَخَرَّجَهُ مُسْلِمٌ

Terj: Ibnu Mas'ud berkata: "Barangsiapa beribadah selama setahun, maka ia akan memperoleh Malam Kemuliaan." Dia berkata: Semoga Tuhan mengampuni Abu Abd al-Rahman! Beliau mengetahui bahwa malam itu adalah malam sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dan malam kedua puluh tujuh. Namun, beliau tidak ingin agar manusia bergantung padanya. Maka beliau bersumpah tanpa kecuali bahwa malam itu adalah malam kedua puluh tujuh. Dia berkata: Aku bertanya: Mengapa engkau berkata demikian, wahai Abu al-Mundhir? Beliau berkata: Dengan tanda bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi tahu kami, atau dengan tanda bahwa matahari akan terbit pada hari itu tanpa sinar. At-Tirmidzi berkata: Sebuah hadits hasan dan shahih. Diriwayatkan oleh Muslim.

Banyak kitab – kitab tafsir dengan model bi al-riwayah (menggunakan hadis sebagai penjelas al-Qur’an) mencamtumkan riwayat hadis yang berbeda-beda mengenai waktu pasti malam lailatul qadr. Imam Abu Abdillah Ibn Muhammad Ibn Ahmad Marzuqi al-Tilmasani, dalam kitabnya Jana al-Jannataini fi Syarafi al-Lailataini merangkum seluruh perbedaan pendapat tersebut dan mengelompokkannya menjadi 17 pendapat.

Pendapat pertama yang paling mashur adalah malam ke 27 Ramadan. Ini adalah pendapat Ali bin Abi Thalib ra., Aisyah ra. (istri Nabi Muhammad Saw.), Ibnu Umar ra., sejumlah sahabat dan tabi’in.

Pendapat kedua adalah malam lailatul qadr terjadi sepanjang malam dan tahun. Pendapat ini diriwayatkan Ibnu Mas’ud (Beliau juga masuk golongan pertama. Alasan pendapat ini tetap dikutip karena para ulama juga terjadi perbedaan dalam pengulangan bulan Ramadan: apakah terjadi di setiap tahunnya atau sekali saja – mengingat malam itu turun al-Qur’an secara keseluruhan sekali saja. Di samping juga ucapan Ibnu Mas’ud tersebut begitu populer) disetujui oleh Imam Abu Hanifah. Imam Abu Abdillah al-Tilmasani menilai pendapat ini paling lemah keberadaannya.

Pendapat ketiga menyatakan bahwa malam lailatul qadr terjadi di sepanjang malam Bulan Ramadan. Pendapat ini dibenarkan oleh Ibnu Buzayzah.

Pendapat keempat mengatakan bahwa malam itu terletak pada sepuluh malam terakhir Bulan Ramadan, sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis sahih. Kelompok ini diantaranya Malik, Syafi’i, al-Auza’I, Ishaq, Abu Tsur, dan Ahmad Ibn Hambal. Abu Abdullah al-Qurtubi mengatakan: “Inilah yang benar, dan itulah yang telah disahihkan oleh al-Hafiz Abu Umar bin Abd al-Barr”.

Pendapat Kelima adalah pendapat Abu Razin al-‘Aqili. Beliau adalah sahabat al-Hafiz, Beliau mendasarkannya pada perkataan Ibnu Abi ‘Asim yang meriwayatkan dari hadis Anas Ibn Malik: ليلة القدر أول ليلة من رمضان”. Abu ‘Ashim tidak mengetahui ada Riwayat lain yang berkata demikian kecuali Anas Ibn Malik.

Pendapat Keenam adalah malam ketujuh belas Bulan Ramadan, yakni malam yang di pagi harinya bertepatan dengan peristiwa perang badar. Termasuk dalam pendapat ini adalah Hasan, Ibnu Ishaq, dan Abdullah Ibn Zubair. Ibnu ‘Arabi menganggap pendapat ini seolah-olah mendasarkannya dengan Surah al-Anfal ayat 41.

Pendapat Ketujuh: malam kesembilan belas sebelum malam ke dua puluh. Ini sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh dalam kitabnya al-Fath, sebuah riwayat dari Abd al-Razzaq dari Ali, diriwayatkan juga oleh Imam al-Thabari dari Ibn Mas’ud dan Ali, dan al-Thahawi yang juga meriwayatkan dari Ibn Mas’ud.

Pendapat kedelapan: malam kedua puluh satu. Imam Syafi’I lebih cenderung mengikuti kelompok ini berdasar hadis tentang air dan tanah liat yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri ra., Malik dan lainnya. Hafizh Abu Umar rahimahullah telah melengkapi pendapat ini dengan dalil-dalil hadis dan atsar yang terperinci dalam kitab at-Tamhid dan al-Istidzkar.

Pendapat kesembilan: malam kedua puluh tiga. Abd al-Razzaq al-San’ani, salah seorang murid Imam Sufyan al-Tsauri, dalam kitabnya al-Mushannaf meriwayatkan hadis berikut:

رواه ابن عمر أنَّ رجلاً قال: يا رسول الله إني رأيت ليلة القدر في سابعة تبقى، فقال صلى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (أرى رؤياكم تواطأت على ثلاث وعشرين)

Terj: Ibnu Umar meriwayatkan seorang laki-laki yang berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku melihat lailatul qadr pada malam ke tujuh. Rasulullah berkata: sesungguhnya Aku melihat mimpimu telah menyatu pada malam ke dua puluh tiga.

Nabi Saw. dalam kitab hadis Bukhari dan Muslim mengatakan bahwa Beliau Saw. melihat dirinya sendiri tengah bersujud pada pagi hari di dalam air dan lumpur. Abdullah Ibn Anis berkata: “Aku melihat Beliau pada pagi hari tanggal dua puluh tiga sedang bersujud di dalam air dan tanah liat.

Al-Hafidz Abu Bakar Ibn al-‘Arabi berkata dalam kitabnya al-‘Aridhah:

“Telah diriwayatkan oleh para ahli zuhud, bahwa suatu ketika sekelompok dari mereka mengadakan perjalanan laut di bulan Ramadhan. Tiba-tiba pada malam tanggal dua puluh tiga, salah seorang dari mereka terjatuh dari kapal ke dalam laut, lalu air masuk ke tenggorokannya, dan air itu manis.”. Beliau berkata: Seakan-akan berkah dan rahmat yang turun dari langit pada malam itu mengubah air yang asin menjadi air yang manis. Lalu bagaimana pandanganmu jika saja hal itu adalah dosa (bukan air laut)?”.

Pendapat kesepuluh: malam kedua puluh lima. Sebagaimana dalam hadis Riwayat Abu Sa’id al-Khudri:

رسول الله صلى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: «التمسوها في العشر الأواخر، في تاسعة تبقى، في خامسة تبقى». رواه مسلم

Terj: Rasulullah saw. bersabda: “carilah lailatul qadr di sepuluh malam terakhir, di Sembilan yang tersisa, dan di kelima yang tersisa.” Riwayat Imam Muslim.

Pendapat kesebelas: malam kedua puluh Sembilan. Berdasarkan hadis dalam musnad Ahmad Juz 2, hadis nomor 519 riwayat Abu Hurairah.

Pendapat kedua belas: Pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir. Berdasarkan hadis Riwayat Imam Bukhori dalam sahihnya nomor hadis 1917 dan 1918.

Pendapat ketiga belas: Pada bilangan genap. Hasan berkata bahwa aku melihat matahari terbit pada malam dua puluh empat selama dua puluh tahun, bersinar putih tanpa ada seberkas Cahaya apapun di dalamnya sebab banyaknya cahaya pada malam itu. Ini terdapat dalam kitab al-Mushannaf karya Imam Abd al-Razzaq, nomor hadis 7698.

Pendapat keempat belas: Pada malam kedua puluh enam. Hal ini dibenarkan oleh Sebagian hadis. Imam Abu Abdillah al-Tilmasani mengatakan bahwa beliau dikabarkan oleh Sebagian orang-orang yang dikenal luas oleh Masyarakat dekat dengan Allah dan telah mencapai mukasyafah (derajat yang tinggi hingga dapat melihat hal-hal gaib atau non-fisik) bahwa mereka melihatnya di malam kedua puluh enam.

Pendapat kelima belas: Pada malam pertengahan bulan Ramadan. Hal ini sebagaimana diungkapkan Ibnu ‘Arabi dalam Sebagian kitab-kitabnya. Akan tetapi Imam Abu Abdillah al-Tilmasani mengaku tidak menemukannya, kecuali pada kitab al-‘Ilam bi Fawaid ‘Umdat al-Ahkam: 405/5 karangan Ibnu al-Mulqin, dan Imam al-Qurtubi dalam kitabnya al-Mufhim.

Pendapat keenam belas: Pada malam pertengahan bulan Sya’ban. Sebagaimana diriwayatkan oleh Sanad Ibn ‘Annan yang mendasarkan pendapatnya dengan ayat 4 surah al-Dukhan, serta beberapa hadis yang menyatakan demikian. Termasuk juga seseorang dari Alexandria, pengarang kitab Tiraz al-Majalis yang menjadi kitab syarh (penjelas) kitab al-Mudawwanah. Imam Abu Abdillah al-Tilmasani melihat redaksi ini sewaktu berada di Kota Rabat. Terdapat pula dalam kitab al-Dibaj, hadis nomor 254,

Pendapat ketujuh belas: Terjadi pada satu hari di tahun ini (entah dimana, tapi anggap saja terjadi di salah satu hari di bulan Ramadan), dan terjadi di hari yang lain pada tahun selanjutnya. Didasarkan pada perkataan Ibnu Mas’ud yang tercantum dalam kitab Sahih Bukhori, hadis nomor 762 dan 220. Al-Muhallab dalam Syarh Ibn Bathal ‘ala al-Bukhari mengomentari pernyataan ini, Beliau berkata: “Barangsiapa yang menerima pernyataan Ibnu Mas’ud dan menafsirkannya sebagai terjadi sepanjang tahun, maka tidak ada dalil baginya kecuali anggapan tentang perputaran waktu dengan munculnya dan berkurangnya bulan sabit, dan anggapan itu adalah anggapan yang salah karena tidak mungkin mengaitkannya pada malam selain Ramadhan. Sebagaimana puasanya tidak disyaratkan pada hari-hari yang diketahui, yang berputar sepanjang tahun dengan muncul dan berkurangnya. Karenanya puasa Ramadan tidak bisa dilakukan di selain bulan Ramadhan. Begitu pula, Malam Ketetapan tidak dapat berada di tempat lain selain Ramadhan.”

Demikian berbagai pendapat mengenai waktu malam lailatul qadr. Malam lailatul qadr bukan hanya indah, namun begitu menawan. Sebab di dalamnya turun al-Qur’an, para malaikat dan rahmat Allah swt. Keberadaannya bahkan disebut oleh Allah dalam surat tersendiri dalam al-Qur’an. Dijelaskan suasana bumi dan bahkan malam pada hari itu. Kedatangannya disebutkan melalui banyak riwayat, dan sulit untuk memastikannya, kecuali oleh para kekasih Allah yang oleh-Nya diberi kelebihan atas hamba-Nya yang lain. Menjadikannya malam terindah di bumi, sepanjang masa.

قال القشيري: ليلة القدر هي ليلة قدر فيها الرحمة لأوليائه، ليلة يشهد فيها العابدون قدر نفوسهم، ويشهد العارفون فيها قدر معبودهم، فشتان بين وجود قدر و شهود قدر، فلهؤلاء وجود قدر، ولكن قدر أنفسهم، ولهؤلاء شهود قدر، ولكن قدر معبودهم، وهي قصيرة على الأحباب لأنها في مسامرة وخطاب. (لطائف الإشارات)

 

Al-Qushairy berkata: Lailatul Qadr adalah malam kemuliaan yang di dalamnya terdapat rahmat Tuhan bagi para kekasih-Nya. Pada malam ini, para ahli ibadah menyaksikan kemuliaan diri mereka. sedang ahli ma'rifat, mereka menyaksikan kemuliaan Tuhan mereka. Sungguh keduanya amat berbeda. Bagi mereka yang mempersaksikan wujud kemuliaan malam itu, hanya tertuju pada kemuliaan diri mereka sendiri. Sementara bagi yang mempersaksikan kemuliaan ini, berujung pada kemuliaan Tuhan mereka. Malam ini terasa begitu singkat bagi para kekasih sebab jiwa mereka berpadu, larut dalam perbincangan intim bersama Tuhan mereka.(al-Qushairy, Lataif al-Isyarat)


0 Komentar